Mengapa Ada Masyarakat yang Masih Melanggar PSBB?

Mengapa Ada Masyarakat yang Masih Melanggar PSBB?

Mengapa Ada Masyarakat yang Masih Melanggar PSBB?

Mengapa Ada Masyarakat yang Masih Melanggar PSBB – Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun, menyebut ada lima akar permasalahan masih banyaknya masyarakat yang tidak mematuhi kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Lau, apa penyebab masyarakat masih sering melanggar PSBB dan tidak mengikuti aturan?

“Pertama karena kebijakan, PSBB masih membolehkan lalu lintas sosial dan ekonomi masyarakat,” kata Ubedilah kepada Tempo, Senin, 4 Mei 2020.

Kedua, secara sosiologi kebudayaan, masyarakat Indonesia memiliki budaya guyub yang kuat. Ubedilah mengatakan, di antara budaya guyub itu adalah bercengkrama, gotong royong, dan budaya ngumpul. Sehingga tidak mudah mengubah situasi kultural tersebut karena telah melekat di tubuh sosial masyarakat.

Ketiga, kata Ubedilah, rasionalitas masyarakat Indonesia secara umum masih rendah. Kemampuan untuk mengumpulkan, menata, dan menguatkan argumen untuk melakukan jaga jarak fisik masih rendah. “Masih menganggap tidak penting, maka cenderung abai,” ujarnya.

Keempat, kebijakan pemerintah dan turunannya berupa petunjuk pelaksana dan anjuran lainnya belum tersosialisasi secara masif. Ubedilah menilai, masyarakat bawah belum menerima informasi utuh. Mereka yang melek informasi Covid-19 kebanyakan masyarakat perkotaan kelas menengah dan atas.

Kelima, Ubedilah melihat elit politik memberi contoh buruk dalam situasi Covid-19 . Misalnya, komunikasi publik pemerintah, koordinasi, dan cara elit menjalankan kebijakan. Ia menyebut masih ada elit politik yang membagikan sembako di jalanan dan membuat kerumunan. “Tentu itu semua membuat ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah melemah. Akibatnya masyarakat tidak mau mendengar anjuran pemerintah,” kata Ubedilah.

Di sisi lain, alasan mencari nafkah dan faktor ekonomi tidak sepenuhnya bisa dijadikan pembenaran. Sebab, masih ada masyarakat yang keluar hanya karena ingin berkumpul dan bercengkrama tanpa adanya alasan yang kuat.

Padahal menurut Ubedilah Badrun aturan PSBB dibuat untuk mencegah penyebaran virus Corona Covid-19 yang saat ini tengah menjadi pandemi di seluruh dunia.

Aturan-aturan baru seperti memakai masker dan berkendara dengan penumpang terbatas merupakan upaya untuk menekan laju penularan penyakit. Aturan-aturan baru ini menurutnya, sama seperti konsep terapi perilaku di ilmu psikiatri.

Jika peraturan PSBB saja bisa dilanggar, maka perilaku new normal seperti menggunakan masker ketika bepergian keluar rumah, menjaga jarak di tempat umum, hingga mencuci tangan menggunakan sabun sangat mungkin tidak dilakukan.

“Masyarakat akan menganggap pandemi sudah berlalu dan kita kembali seperti semula. Padahal kalau melihat grafik penambahan kasus sendiri di Indonesia sepertinya belum mengalami stagnasi tetapi cenderung terus bertambah,” tutupnya.